ternyata aku perpisahan
tapi tak satupun yang benar-benar kuharapkan
yang ku tahu aku ini pertemanan
aku adalah sebuah hubungan
aku adalah persahabatan
aku ingin bersama cinta kasih
tapi tak kusangka benci yang menghampiri
itu bukan aku
itu hanya sepenggal dari hasrat hatiku
itu bukan aku
karena bukan itu yang sesungguhnya aku inginkan
Archive for the ‘Uncategorized’ Category

January 13, 2009

S3L4L03
December 26, 2008Jujur aku tak tahu harus memulainya dari mana. Aku tak bisa bohongi diriku, aku masih terjebak dalam perasaanku, dalam kesepian yang kubuat sendiri untuk kurasakan. Aku benar2 tak mengerti mengapa aku dan hanya aku?!!. Baiklah, mungkin di luar sana ada orang semacam aku, tapi tak pernah kutemui sebelumnya, aku hanya dapat temukan diriku dalam rasa ini. Hhh.., benar2 tak ingin mengeluh tapi keluhan itu tak berhenti terlontar dari bibirku. Berapa kata lelah yang pernah kusebut?, akupun tak tahu. Lelah mengeluh, merasa. Jika boleh kukatakan, aku ini lelah untuk hidup. Yang ada di pikiranku pergi, lepas, bebas dari segala yang ada di dunia. Hanya impian, terlalu banyak tugasku di dunia ini, memang ingin kutinggalkan, tapi siapa yang akan menyelesaikannya??. Rumahku, hanya ada aku sebagai anak. Sepi, sepi yang terlalu mendadak kadang2 sulit diterima hati dan pikiranku. Tempat mengadu, menangis, hilang begitu saja. Mengapa ada kata “rela” di dunia ini?. Apa sebenarnya makna dari kata itu?. Apakah insan yang pertama kali mengucapkannya selalu dapat merasakan “kerelaan” terhadap sesuatu yang terjadi di hidupnya?. Wach, aku rasa aku terlalu mendalami kesendirianku. Jujur saja, sebenarnya dalam kenyataan ini aku tak benar2 sendiri. Hanya saja perasaanku terlalu kuat dan selalu berhasil mengatakan bahwa tak ada siapapun di sekelilingku. Kapan kubisa tuntaskan rasa ini?. Kapan aku bisa lepas dari semua ini?. Apa dengan meninggalkan segala yang tak bisa kutinggalkan dapat obati segalanya?. Hatiku tak berhenti bertanya, tak berhenti berharap, meski terkadang harapan terasa lebih berat untuk diingat bila tak pernah bisa terwujud.

PaNaS…pAnaS…PanAs… badan ini…
October 17, 2008tw ga c…?! akhir2 ini Panas bGd y…
ikan yang idupNa di air ajh kga bza tidur…! heE
berawal dr bangkuq, kelasq, sekolahq, jln. sanitasi, jln. pendidikan, sidakarya, sesetan, denpasar selatan, denpasar, Bali, Indonesia, ASEAN, Asia, PBB, dunia, n alam lain,,, panas bgd rasana….
setuju?!
mezti!!
HEe

Benci Sendiri
October 12, 2008
Aku benci sendiri. Tapi aku juga benci keramaian. Hhh…,orang macam apa aku??
Aku juga tak begitu paham. Tapi lebih benci sendirian saat malam, ya… setidaknya aku selalu perlu teman untuk sekedar menerima dan membalas SMSku. Andai saja kakakku msh ada, pasti semua akan berbeda. Waaaa,,,,, aku merindukannya…
Sedang apa ia di sana ya??
Apa ia tahu aku merindukannya??
Hhhh…
Sudahlah…

TeNtaNg ia yg MengInspiRasikaNku
October 9, 2008
Shah Rukh dilahirkan dari keluarga kelas menengah. Ayahnya, Taj Khan, adalah seorang pengacara yang juga memiliki sejumlah usaha. Ibunya adalah pekerja sosial yang bergelar master dari Oxford University – sebuah pencapaian gelar akademis dan karir yang jarang digapai seorang wanita muslim India saat itu.
Shah Rukh sendiri mengenyam pendidikan yang lumayan. Selepas dari SMU St. Columbia, ia kuliah bidang manajemen bisnis di Hansraj College, lalu mengambil magister bidang komunikasi massa di Jamiyya Miliyya Islamiyya, New Delhi. Di sekolah ia terkenal badung, yang membuat para guru menjulukinya “setan kecil”. Namun ia memiliki sense of humor yang tinggi, dan otaknya sangat brilian. Itulah yang menyebabkan gurunya kerap tersenyum, dan melupakan kebengalannya.
Sering, jika ada guru baru, Shah Rukh berpura-pura mengidap penyakit ayan. Kawan-kawan yang sudah memaklumi kebengalannya, menanggalkan sepatu Shah Rukh, dan ia pun berjalan telanjang kaki sambil menggoyang-goyangkan pantat. Namun ia sangat hormat dan patuh pada Eric D’Souza, guru bertubuh pendek yang mengajarinya segala jenis permainan, dan banyak hal tentang kehidupan. Eric adalah perokok berat, dan Shah Rukh kerap mengingatkannya bahwa hanya manusia lemah yang punya kebiasaan merokok. Namun kini Shah Rukh pun melakukannya.
Sejak kecil sebetulnya Shah Rukh telah menyukai seni peran, dan pernah tampil dalam teater produksi Ram Leela, berperan sebagai monyet. Namun setamat kuliah, ia malah mendirikan restoran di Darya Ganj, menemani kakak perempuannya, Shehnaz Lalarukh, yang bekerja sebagai psikiater. Maklumlah, sejak kedua orangtuanya meninggal karena kanker, Shehnaz adalah kawan hidup terdekatnya – selain Gauri. Begitupun, ia tetap menggeluti hobi seni perannya, dengan bergabung pada sebuah kelompok teater Barry John.
Dan hasrat aktingnya mulai tersalur sejak kepindahannya ke Bombai (1989), kota yang menjadi pusat industri perfilman India, Bollywood. Awalnya ia berperan dalam film serial televisi, Fauji, dan Circus. Penampilannya di layar lebar bermula setelah ia menandatangani kontrak tiga film sekaligus, Raju Ban Gaya Gentleman, Dil Ashna Hai dan Chamatkar. Namun lewat film Deewana lah Shah Rukh mania mulai mewabah di seantero India. Lebih lagi setelah bermain dalam Dil To Pagal Hai dan Kuch Kuch Hota Hai.
Kini sudah puluhan film yang diperaninya, yang melambungkannya menjadi bintang dengan bayaran termahal di India. Kebanyakan karakter yang diperankannya adalah sebagai tokoh remaja badung, kocak dan romantis. Dan meski tubuhnya tak kekar benar, Shah Rukh pun kebagian peran jagoan dalam sejumlah film laga.
Belakangan Shah Rukh enggan cuma bermain sebagai tokoh remaja. Ia pun mencari peran lain, misalnya sebagai guru musik dalam Mohabbatein, ksatria dalam Asoka The Great, gelandangan dalam Shakti dan pemabuk dalam Devdas. Film terakhir inilah pada Oktober lalu secara resmi terpilih mewakili India dalam perebutan Piala Oscar 2003 untuk kategori film asing.
Tuhan dan Ibu
Seperti tercermin dalam film-film India, Shah Rukh adalah anak yang sangat ta’zim dan patuh pada sosok ibunya. Dalam belaian kasih sayang sang bunda ia menjalani masa kecil dan remajanya, memenuhi setiap dahaga keilmuan dan spiritualitasnya. Ibu adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidupnya kemudian.
Ketika ayahnya meninggal (1981), ibunyalah yang kemudian tampil melanjutkan perusahaannya, tanpa meninggalkan perannya sebagai pekerja sosial. Ia bekerja keras siang malam, dan Shah Rukh mengakui bahwa ibunyalah yang mengajarkan etos workaholism. Ibunya tak pernah bilang “tidak”. Ketika Shah Rukh ingin melanjutkan kuliah magister, bermain film, dan bahkan meminta mobil, ibunya tak melarang.
Itulah yang membuat Shah Rukh shock, menangis tersedu-sedu, dan merasakan kiamat, saat ibunya meninggal dalam pangkuannya. Inilah momentum hidupnya yang paling menyakitkan. “Waktu ibuku sekarat itulah pertama kalinya aku berdoa. Sebelumnya, meskipun keluargaku muslim, aku jarang shalat. Namun saat itu aku berdoa sangat khusyu. Tapi ibuku tetap saja dipanggil-Nya,” kata Shah Rukh seperti diungkap dalam autobiograpi kecilnya.
Menurut Shah Rukh, ibunya adalah sahabat sejati, yang mengajarinya nilai-nilai dasar dan filosofi hidup. Ibunya mengajari bahwa kehidupan tidaklah permanen, termasuk dirinya. Ibunya sangat mensyukuri setiap rejeki yang diperoleh, namun tak pernah mengeluh kala berkah itu raib. “Kematian ibu membuatku sadar, bahwa apapun – ketenaran, uang atau orang-orang yang dikasihi, suatu saat akan pergi dariku. Awalnya memang aku benar-benar takut, dan sangat merajuk kepada Tuhan, tolong jangan ambil ibuku,” ungkap Shah Rukh.
Menurut Shah Rukh, sang ibu adalah perantara sekaligus sosok Tuhan di bumi. “Sebab tak ada sesuatu di dunia ini yang kuinginkan tak terkabulkan. Dan itu sangat kusyukuri,” ujarnya. Begitu pula ketika ia mengabarinya ingin menikahi Gauri, ibunya sama sekali tak bertanya, misalnya, “Apakah calon isterimu muslim atau China?” Padahal ibunya tahu bahwa Gauri beragama Hindu.
Dan kini, boleh jadi, ajaran ibunyalah yang membuat Shah Rukh bersikap positif dalam memandang keberagamaan manusia yang majemuk, yang tak menghalanginya untuk melangsungkan pernikahan antaragama. Itu pula yang mungkin membuatnya tak keberatan memerankan sejumlah tokoh heroik Hindu dalam sejumlah filmnya. Karena, baginya, agama apapun menganjurkan kebaikan, penegakan keadilan, dan kasih sayang – seperti kasih sayang ibunya.
Maka, ketika muncul tudingan bahwa agama berada di balik berbagai aksi terorisme, Shah Rukh tersinggug berat. Asal tahu saja, Shah Rukh kebetulan berada di New York ketika menara kembar World Trade Center ambruk dihantam dua pesawat bajakan, 11 September 2001. Dan ia bisa merasakan jeritan para korban dan keluarga yang ditinggalkan akibat tragedi itu.
“Tapi yang lebih menyakitkanku adalah cara Amerika Serikat menuduh pelakunya dengan membawa-bawa sentimen agama. Koran The New York Time esoknya menulis headline dengan ungkapan yang sangat provokatif: ‘Bunuhlah Bajingan!’ Tentu warga Amerika sangat trauma dengan tragedi itu, tapi yang lebih menakutkanku adalah tindakan menyamakan terorisme dengan Islam,” kata Shah Rukh dalam sebuah wawancara dengan Planet Bollywood Online.
Menghujat Shah Rukh
Itulah Shah Rukh, yang kini kian digilai anak-anak muda di seantero Asia, dan bahkan mungkin dunia. Tapi bukan berarti lelaki pengagum Napoleon Bonaparte dan Jengiz Khan ini lolos dari hujatan. Sejumlah ulama di Malaysia, misalnya, menuntut penghentian penayangan film-film Shah Rukh dan film lain yang diperankan aktor muslim India, di negeri Jiran, lantaran dianggap membawa pengaruh buruk.
Setidaknya terdapat tiga “kesalahan” Shah Rukh. Pertama, ia mengawini Gauri yang Hindu, dengan pesta ritual pernikahan Hindu pula. Kedua, ia kerap memerankan tokoh Hindu yang menampilkan adegan menyembah berhala. Ketiga, Shah Rukh juga pernah mengenakan rantai berlambang salib dalam adegan upacara keagamaan.
Para ulama dari lima ormas Islam di Hyderabad, India – Jamia Nizamia, Darul Ulum Sabil as-Salam, Darul Ulum Hyderabad, Darul Ulum Rahmania dan al-Ma’had al-‘Ali al-Islami, bahkan mengeluarkan fatwa yang melarang aktor muslim memerankan adegan ritual agama lain. Fatwa itu dilansir sebagai jawaban atas pertanyaan dari editor mingguan muslim, Gawah, Syed Fadil Hussein Parvez. Bahkan ulama dari al-Ma’had al-‘Ali al-Islami menganggap bahwa memerankan adegan tadi karena tuntutan profesional, atau keterpaksaan ekonomi, lebih berdosa lagi. Para aktor muslim yang telah melakukannya, menurut para ulama, harus bertobat, kembali bersyahadat dan tak mengulangi kesalahannya.
Fatwa itu terutama ditujukan kepada aktor muslim yang telah memerankan tokoh Hindu, atau adegan-adegan ritual Hindu, seperti Shah Rukh Khan, Saif Ali Khan, Aamir Khan dan Salman Khan. “Aktor seperti Shah Rukh Khan cuma namanya saja muslim. Islam melarang mengkonsumsi minuman keras, Shah Rukh malah menganjurkannya dalam sebuah iklan produk minuman keras,” kata Parvez dalam sebuah wawancara dengan Asian Age.
taken from internet without any changes

Teman2ku super heBoh!!!
October 4, 2008hari ini, byk bgd kejadian di skul, tptnya di klsq. Ada yg pnya msalh am cwo, ada yg lg bahagia2nya am cwonya (uuuHu…), trz ada yang ditinggal mudik (heE), ada yg kepanasan…(ukh, ACnya mati! bwd kepsek turunkan saja ACnya Pak!!!!!), guruku jga(uhg…) ga ada comment d…
em,,,ada yang bwd mslah, ada yg klprn,..
pokoknya uda panas, tambah panas d jdnya….
tapi, byk kekonyolan tmn2q yang bwd suasana jd tambah seru!!!
mungkin efek malem minggu X y..(ada hubNa ga y ??)
HeE

MakLuM yaAaCh…
August 22, 2008emmm…
bagi kalian yg sedang berkunjung ke blogQ ini, jangan heran ya klo nantinya blogQ ini bakalan kebanyakan isi puisinYa…
abisnYa, lbh leluasa ngungkapin isi hati lewat puisi..
jadi,,,
MakLum yaAaaCh

Temanku, kau musuh hatiku
August 22, 2008Kau berdiri di sampingku
Ketahui dilemaku
Genggam erat tanganku
Bantu aku melangkah maju
Hampir kau kujadikan sahabat
Namun dustamu menahanku
Karena tak mungkin ku bohongi hati
Kau jatuhkanku saat ku lemah
Aku keliru…
Teramat sangat keliru
Terlalu menyimpan duka
Dan memberikamu suka
Sayangnya aku terlanjur berkata pada Tuhanku
Untuk tak biarkanku menyakiti sesama
Sekalipun ku memetik luka
Saat harus hadapi dunia
