Archive for the ‘public secret’ Category

h1

The 3rd as The Last One

August 30, 2008

250808

Aku, tak lagi menjadi aku yang lalu. Aku ingin menuju ketenangan bersama Tuhanku. Tuhanpun memberiku jalan untuk bersamaNya. Semoga saja aku dapat melaluinya dengan baik. Aku belajar memaafkan, belajar melupakan kesalahan orang lain terhadapku, aku belajar untuk tak membuat orang lain sedih, marah, susah karenaku. Aku belajar untuk tidak menyimpan dengki pada orang lain. Aku belajar untuk menenangkan diri dalam setiap waktuku. Aku, adalah diriku yang baru dengan tujuanku yang berpusat pada Tuhanku Yang Maha Pengasih. Aku, berusaha menjadi yang Beliau inginkan padaku yang berhutang nyawa padaNya. Hingga akhirnya ku ingin merasakan arti ketenangan bhatin yang sempurna yang selalu Beliau janjikan pada umatNya.

Inilah aku sekarang…

Aku berubah seiring waktu. Sayang sekali banyak kekecewaan yang harus kulalui dalam perjalananku. Namun itulah hidup, dan tak setiap jalan yang harus kulalui lurus, ada kalanya berliku. Kesadaranku datang setelah sekian lama kuterpuruk. Namun itu tak kan terlambat untuk membuatku menjadi aku yang baru, yang lebih dapat menerima apapun yang telah kualami dengan senyuman.

Saat teratai mulai layu

Desiran angin turut serta menyangganya

Waktu hanyalah waktu

Takkan kembali ke masa itu

Saat teratai mulai layu

Kupu-kupu takkan sudi menciumnya

Kemolekkan melekat bersama masa

Akan berganti seiring waktu berjalan

Saat teratai mulai layu

Bahagia terpancar dari benihnya

Layunya berikan kehidupan baru

Bagi benih yang ditinggalkannya


h1

2nd

August 22, 2008

Aku mati rasa…
Mungkin untuk saat ini. Saat-saat dimana aku sedang mencoba menghapus luka hatiku, mencari kebenaran keputusan yang telah ku ambil meski rasanya semua bukanlah salahku namun aku takkan kuasa bila bertahan sendiri. Ia benar, aku masih mengharapkannya. Apa yang harus ku katakan bila ia bertanya lagi?. Aku tak bisa mengelak meski kini rasa itu perlahan memudar, mungkin hendak hilang bersama waktu. Namun aku tak dapat membohongi hatiku. Aku mengharapkannya, menantikannya. Mengapa aku bisa sebodoh ini mengharapkan ia yang telah membuat hatiku mati rasa pada adam lainnya?. Aku tak bisa pahami. Sakit dan harap dapat menyatu dalam cerita cintaku. Bagaimana ku jelaskan bahwa ini begitu perih, mengenangnya, mendengarnya telah bersama penggantiku. Did he leave me to find another girl ? is that his purpose ?. Aku tak tahu, tak begitu sanggup hatiku tuk mengetahui menjawabnya meski ragaku mencoba tegar dihadapan semua sahabatku yang tak dapat ku bohongi bahwa ku masih mengharapnya dengan menutup pintu hatiku for another boys.
Inilah aku, dan ku tak pernah mengerti itu.
(the other day…)
Aku pusing. Kepalaku sangat sakit malam ini. Ku coba untuk bahagia dan tersenyum, tapi tak bisa ku bertahan lama. Aku sendiri. Sendiri, sendiri, selalu. Betapapun ramainya dunia ini, aku sendiri.
Bawalah aku pergi Tuhanku. Ku memilih bersamamu. Dunia ini serasa bukan untukku. Aku tak lagi menginginkan sakit di dunia ini. Batinku begitu menderita Tuhan. Aku ingin memujiMu, namun ku lebih menginginkan pergi ke tempatMu. Bawalah aku Tuhanku.

Kadang mata dapat tertipu oleh apa yang dilihatnya
Hatipun dapat terbuai oleh rasa yang menyentuhnya
Manusia, hanya menerima suratan takdir yang tertulis untuknya
Hanya berusaha menggapai apa yang Tuhan tawarkan padanya
Memilih adalah suatu pilihan
Memilih sesuatu yang berarti dalam hidup adalah hak dan kewajiban
Ntah itu untuk mencinta dan dicinta
Untuk melindungi dan dilindungi
Menerima ataupun memberi
Lalu, salahkah diriku jika menerimanya ?
Salahkah bila ku terlanjur memberi seluruh isi hatiku padanya
Hingga tak tersisa sedikitpun dalam ragaku
Aku hanya manusia, aku tak ingin disakiti seperti ini

h1

1st of all

August 17, 2008

Mengapa kadang kehidupan berpihak pada luka yang tergores di dadaku ini. Membuatku selalu mengenang masa itu, entah kapan dapat kulupakan, ntah kapan ku dapat bangkit tanpa menghiraukan semua itu. Aku selalu memimpikannya, walau itu bukanlah hal yang patut untuk diimpikan. Aku bukanlah orang yang pesimis. Namun optimis bukan juga sifatku. Aku terlalu sering berada di jalur itu, dimana selalu terselimuti kebimbangan. Ku ingin sadar dari semua, semua rasa yang membenamku di sana. Aku ingin pergi dari dunia, walaupun surga takkan terbuka untuk menyambut kedatanganku.
Aku bertahan untuk senyum yang selalu ku damba, untuk cinta yang tak lagi ku rasa. Walau semua acuhkan aku dalam hampa, ku rasa ku bisa bertahan meski itu tak kan lama. Aku percayakan pada takdirku, pada Tuhanku, pada alam yang memelukku.
Saat itu aku berusaha melangkahkan kakiku menuju masa depan bersama rasa cinta yang tersisa dalam hatiku. Aku tak pernah membayangkan betapa terlanjur terjeratnya aku oleh kasih yang pernah ia suguhkan padaku. Kakiku tertahan di sana, dalam masa lalu yang senantiasa ku kenang, meski itu tak pantas bagiku. Tak pantas bagi hatiku yang harusnya mendapat cinta yang bahkan lebih dari yang pernah aku dapatkan.
Aku terlanjur membiarkan diriku terhanyut, tertahan, terperangkap, dan terbuai oleh kennagan masa lalu yang senantiasa mambayangiku, yang sesungguhnya ingin tersadar bahwa ku tak harus terperangkap di sini. Bagaimana bisa, jika aku berusaha namun hatiku tak mau, tak menyetujuinya. Bagaimana bisa, bila hatiku terlanjur tinggal bersamanya dan saat ku ingin hatiku kembali, jalanku menggapainya telah terputus oleh badai dusta.
Aku terperangkap di masa lalu meski masa depan menanti. Hatiku tertinggal di sini, sulit untuk ku tinggalkan. Mungkin ku tak akan bertahan di masa depan bila ia tak bersamaku. Namun ku juga tak berharap tuk bertahan di masa lalu jika ternyata membuat hatiku tesiksa.
‘Seberapa pentingnya cinta bagimu bila kau sendiripun tahu bahwa itu telah membuatmu terluka?’. Aku sering mendapat pertanyaan itu saat ku tak bisa bertahan lagi untuk mengenang cintaku. Aku terbawa dalam kebutaan cinta. Aku semestinya menyadari semua itu dan menjauhkan diriku dari gelapnya buta itu. Sulit untuk sembuh, sulit untuk kembali seperti dulu. Aku harus sadarkan diriku tanpa membunuh hatiku yang teracuni oleh cinta yang begitu indah hingga ku tak sanggup untuk membencinya walau ku tahu cintaku pernah menyaki hatiku saat ku begitu percaya padanya untuk menjaga hatiku yang rapuh ini. Cintaku tahu bagaimana aku, namun ku tak pernah berpikir ia dapat menyakitiku dan aku dapat selalu memaafkannya.
Hhhhh….
Aku tak pernah begitu memahami arti cintaku karna ia begitu membingungkan. Cinta itu indah sekalipun kau tersakiti, kau kan tersenyum saat mengenangnya.