Archive for August, 2008

MakLuM yaAaCh…
August 22, 2008emmm…
bagi kalian yg sedang berkunjung ke blogQ ini, jangan heran ya klo nantinya blogQ ini bakalan kebanyakan isi puisinYa…
abisnYa, lbh leluasa ngungkapin isi hati lewat puisi..
jadi,,,
MakLum yaAaaCh

Perkenalan
August 22, 2008Ku perkenalkan diriku padamu
Kau menyambutku dengan senyum itu
Menenangkan…
Itulah kesan pertama yang kau berikan padaku
Lebih dari perkenalan
Itulah yang kau tawarkan padaku
Kesetiaan…
Itulah yang kau janjikan padaku
Aku menerimamu dengan hatiku
Aku pernah bahagia karena bahagiamu
Namun aku tak pernah menyesal
Untuk menangis karena sedihmu
Tak ada yang pahami diriku lebih dari aku
Sayang sekali
Kau yang dulu pernah berjanji
Kini mengkhianati
Jangan pernah kembali untuk berjanji
Karena luka yang kau toreh di hati
Takkan hilang
Saat kau kembali berjanji untuk mengkhianati

Temanku, kau musuh hatiku
August 22, 2008Kau berdiri di sampingku
Ketahui dilemaku
Genggam erat tanganku
Bantu aku melangkah maju
Hampir kau kujadikan sahabat
Namun dustamu menahanku
Karena tak mungkin ku bohongi hati
Kau jatuhkanku saat ku lemah
Aku keliru…
Teramat sangat keliru
Terlalu menyimpan duka
Dan memberikamu suka
Sayangnya aku terlanjur berkata pada Tuhanku
Untuk tak biarkanku menyakiti sesama
Sekalipun ku memetik luka
Saat harus hadapi dunia

2nd
August 22, 2008Aku mati rasa…
Mungkin untuk saat ini. Saat-saat dimana aku sedang mencoba menghapus luka hatiku, mencari kebenaran keputusan yang telah ku ambil meski rasanya semua bukanlah salahku namun aku takkan kuasa bila bertahan sendiri. Ia benar, aku masih mengharapkannya. Apa yang harus ku katakan bila ia bertanya lagi?. Aku tak bisa mengelak meski kini rasa itu perlahan memudar, mungkin hendak hilang bersama waktu. Namun aku tak dapat membohongi hatiku. Aku mengharapkannya, menantikannya. Mengapa aku bisa sebodoh ini mengharapkan ia yang telah membuat hatiku mati rasa pada adam lainnya?. Aku tak bisa pahami. Sakit dan harap dapat menyatu dalam cerita cintaku. Bagaimana ku jelaskan bahwa ini begitu perih, mengenangnya, mendengarnya telah bersama penggantiku. Did he leave me to find another girl ? is that his purpose ?. Aku tak tahu, tak begitu sanggup hatiku tuk mengetahui menjawabnya meski ragaku mencoba tegar dihadapan semua sahabatku yang tak dapat ku bohongi bahwa ku masih mengharapnya dengan menutup pintu hatiku for another boys.
Inilah aku, dan ku tak pernah mengerti itu.
(the other day…)
Aku pusing. Kepalaku sangat sakit malam ini. Ku coba untuk bahagia dan tersenyum, tapi tak bisa ku bertahan lama. Aku sendiri. Sendiri, sendiri, selalu. Betapapun ramainya dunia ini, aku sendiri.
Bawalah aku pergi Tuhanku. Ku memilih bersamamu. Dunia ini serasa bukan untukku. Aku tak lagi menginginkan sakit di dunia ini. Batinku begitu menderita Tuhan. Aku ingin memujiMu, namun ku lebih menginginkan pergi ke tempatMu. Bawalah aku Tuhanku.
Kadang mata dapat tertipu oleh apa yang dilihatnya
Hatipun dapat terbuai oleh rasa yang menyentuhnya
Manusia, hanya menerima suratan takdir yang tertulis untuknya
Hanya berusaha menggapai apa yang Tuhan tawarkan padanya
Memilih adalah suatu pilihan
Memilih sesuatu yang berarti dalam hidup adalah hak dan kewajiban
Ntah itu untuk mencinta dan dicinta
Untuk melindungi dan dilindungi
Menerima ataupun memberi
Lalu, salahkah diriku jika menerimanya ?
Salahkah bila ku terlanjur memberi seluruh isi hatiku padanya
Hingga tak tersisa sedikitpun dalam ragaku
Aku hanya manusia, aku tak ingin disakiti seperti ini

Me, My self, and I
August 17, 2008semua yang ada di sini adalah aku..
dengan hidupku..
dan hatiku..
dengan senang dan sedihku..
mungkin akan membosankan..
tapi ku harap tidak demikian untukmu..
Selamat datang di hidupku…

1st of all
August 17, 2008Mengapa kadang kehidupan berpihak pada luka yang tergores di dadaku ini. Membuatku selalu mengenang masa itu, entah kapan dapat kulupakan, ntah kapan ku dapat bangkit tanpa menghiraukan semua itu. Aku selalu memimpikannya, walau itu bukanlah hal yang patut untuk diimpikan. Aku bukanlah orang yang pesimis. Namun optimis bukan juga sifatku. Aku terlalu sering berada di jalur itu, dimana selalu terselimuti kebimbangan. Ku ingin sadar dari semua, semua rasa yang membenamku di sana. Aku ingin pergi dari dunia, walaupun surga takkan terbuka untuk menyambut kedatanganku.
Aku bertahan untuk senyum yang selalu ku damba, untuk cinta yang tak lagi ku rasa. Walau semua acuhkan aku dalam hampa, ku rasa ku bisa bertahan meski itu tak kan lama. Aku percayakan pada takdirku, pada Tuhanku, pada alam yang memelukku.
Saat itu aku berusaha melangkahkan kakiku menuju masa depan bersama rasa cinta yang tersisa dalam hatiku. Aku tak pernah membayangkan betapa terlanjur terjeratnya aku oleh kasih yang pernah ia suguhkan padaku. Kakiku tertahan di sana, dalam masa lalu yang senantiasa ku kenang, meski itu tak pantas bagiku. Tak pantas bagi hatiku yang harusnya mendapat cinta yang bahkan lebih dari yang pernah aku dapatkan.
Aku terlanjur membiarkan diriku terhanyut, tertahan, terperangkap, dan terbuai oleh kennagan masa lalu yang senantiasa mambayangiku, yang sesungguhnya ingin tersadar bahwa ku tak harus terperangkap di sini. Bagaimana bisa, jika aku berusaha namun hatiku tak mau, tak menyetujuinya. Bagaimana bisa, bila hatiku terlanjur tinggal bersamanya dan saat ku ingin hatiku kembali, jalanku menggapainya telah terputus oleh badai dusta.
Aku terperangkap di masa lalu meski masa depan menanti. Hatiku tertinggal di sini, sulit untuk ku tinggalkan. Mungkin ku tak akan bertahan di masa depan bila ia tak bersamaku. Namun ku juga tak berharap tuk bertahan di masa lalu jika ternyata membuat hatiku tesiksa.
‘Seberapa pentingnya cinta bagimu bila kau sendiripun tahu bahwa itu telah membuatmu terluka?’. Aku sering mendapat pertanyaan itu saat ku tak bisa bertahan lagi untuk mengenang cintaku. Aku terbawa dalam kebutaan cinta. Aku semestinya menyadari semua itu dan menjauhkan diriku dari gelapnya buta itu. Sulit untuk sembuh, sulit untuk kembali seperti dulu. Aku harus sadarkan diriku tanpa membunuh hatiku yang teracuni oleh cinta yang begitu indah hingga ku tak sanggup untuk membencinya walau ku tahu cintaku pernah menyaki hatiku saat ku begitu percaya padanya untuk menjaga hatiku yang rapuh ini. Cintaku tahu bagaimana aku, namun ku tak pernah berpikir ia dapat menyakitiku dan aku dapat selalu memaafkannya.
Hhhhh….
Aku tak pernah begitu memahami arti cintaku karna ia begitu membingungkan. Cinta itu indah sekalipun kau tersakiti, kau kan tersenyum saat mengenangnya.

